
Berita yang diterbitkan oleh UNDP Indonesia pada 11 September 2026 membahas sebuah gerakan masyarakat di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, yang mengubah sampah bernilai ekonomi menjadi sarana berbagi kepada sesama. Program ini memperlihatkan bahwa barang bekas yang biasanya dibuang ternyata dapat dimanfaatkan untuk membantu kegiatan sosial apabila dikumpulkan dan dikelola dengan benar. Gagasan tersebut menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan kebiasaan berbagi yang telah dikenal dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Salah satu contoh pelaksanaannya berada di Masjid Baitul Makmur, Desa Telaga Murni, Cikarang Barat. Warga membawa berbagai bahan yang masih dapat didaur ulang, seperti botol plastik, kardus, dan minyak goreng bekas. Bahan-bahan tersebut dipisahkan dari sampah lainnya, kemudian dikumpulkan untuk dijual kepada pengepul atau pembeli bahan daur ulang. Uang yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk kepentingan tertentu, tetapi juga dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar masjid.
Gerakan ini dikenal sebagai Gerakan Sedekah Sampah Indonesia atau GRADASI. Program tersebut mengajak masyarakat memahami bahwa berbagi tidak selalu harus dilakukan dengan memberikan uang secara langsung. Menyerahkan barang bekas yang masih memiliki nilai jual juga dapat menjadi bentuk kepedulian sosial. Dengan pendekatan tersebut, kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan dapat berjalan bersamaan dengan kegiatan membantu orang lain.
Pelaksanaan program didukung oleh kerja sama berbagai pihak, termasuk UNDP, pemerintah, Majelis Ulama Indonesia, serta organisasi dan lembaga terkait. Dukungan tersebut membantu memperkuat fasilitas pengumpulan sampah dan memperluas pelaksanaan kegiatan ke berbagai tempat ibadah. Selain masjid, gerakan ini juga berkembang di lingkungan sekolah, perguruan tinggi, pesantren, perkantoran, dan kelompok masyarakat lainnya.
Manfaat program terlihat dari penggunaan hasil penjualan sampah untuk membiayai kegiatan sosial. Masjid Baitul Makmur, misalnya, memanfaatkan dana yang terkumpul untuk mendukung pendidikan agama bagi anak-anak, kursus bahasa Inggris gratis, serta pembelajaran Al-Qur’an menggunakan huruf Braille bagi penyandang disabilitas penglihatan. Masjid tersebut juga melakukan perbaikan akses agar pengunjung dengan keterbatasan penglihatan dapat bergerak lebih mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat yang melampaui persoalan kebersihan.
Sejak diperkenalkan pada 2021, kegiatan di masjid tersebut mendapat sambutan dari masyarakat. Bahkan, pada masa awal pelaksanaannya, nilai sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai sekitar Rp25 juta hingga Rp30 juta setiap bulan. Secara lebih luas, hingga akhir 2024, gerakan GRADASI telah menghimpun lebih dari 1.108 ton sampah, melibatkan hampir 1,3 juta orang, dan menghasilkan transaksi dengan nilai lebih dari Rp5,3 miliar.
Meskipun demikian, keberhasilan gerakan ini tidak hanya ditentukan oleh jumlah sampah atau uang yang dihasilkan. Perubahan kebiasaan masyarakat menjadi bagian yang sangat penting. Warga perlu membiasakan diri memisahkan sampah sejak dari rumah, menyimpannya dengan baik, dan menyerahkannya melalui tempat pengumpulan yang tersedia. Botol, kardus, dan minyak bekas yang tercampur air atau kotoran dapat kehilangan nilai jual sehingga tidak mudah dimanfaatkan kembali.
Kesimpulannya, berita ini menyampaikan bahwa persoalan sampah dapat diatasi melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Dengan memilah barang bekas, masyarakat membantu mengurangi pencemaran sekaligus menciptakan sumber dana untuk kegiatan sosial. Program GRADASI membuktikan bahwa kepedulian lingkungan, solidaritas, dan pemberdayaan masyarakat dapat saling mendukung untuk membangun kehidupan yang lebih bersih, bermanfaat, dan berkelanjutan.
Kunjungi situs web kami: https://lightsoundjournal.org/
BERITA TERKINI: https://lightsoundjournal.org/rangkuman-berita-penguatan-kemampuan-pengelola-hutan-sosial-untuk-mendukung-pasar-karbon-yang-terpercaya/